10 orang super miskin
Orang Super Kaya di Indonesia
Biasalah kalau mau akhir tahun, banyak media menyampaikan catatan tahunan, prestasi tahunan dan lain-lain yang bersifat evaluasi. Baru-baru ini majalah Forbes Asia juga mengumumkan Daftar 10 Orang Super Kaya di Indonesia dan akan diterbitkan menjelang Malam Natal 24 Desember 2007 nanti, yaitu :
1. Aburizal Bakrie & keluarga (5,4 miliar dollar AS) 2. Sukanto Tanoto (4,7 miliar dollar AS)
3. R. Budi Hartono (3,14 miliar dollar AS) 4. Michael Hartono (3,08 miliar dollar AS) 5. Eka Tjipta Widjaja & keluarga (2,8 miliar dollar AS) 6. Putera Sampoerna & keluarga (2,2 miliar dollar AS) 7. Martua Sitorus (2,1 miliar dollar AS) 8. Rachman Halim & keluarga (1,6 miliar dollar AS) 9. Peter Sondakh (1,45 miliar dollar AS) 10. Eddy William Katuari & keluarga (1,39 miliar dollar AS)
Sebagian besar dari mereka sudah kita kenal, atau paling tidak sudah pernah dengar namanya, seperti Aburizal Bakrie, Sukanto Tanoto, Rachman Halim, Putera Sampoerna dan lain-lain. Tapi mungkin juga kita baru tahu kalau mereka adalah termasuk orang terkaya di Indonesia. Mungkin karena saya orang Batak, nama Martua Sitorus sudah tidak asing lagi bagi saya meskipun saya kaget juga kalau dia di peringkat ke tujuh dengan kekayaan Rp. 2.1 miliar US $, atau kalau dikalikan 1 US$ = Rp. 10,000 maka menjadi Rp. 21,000,000,000,000.
Saya coba membayangkan bagaimana caranya majalah Forbes Asia mendapatkan daftar kekayaan orang-orang super kaya tersebut. Memang sih katanya orang-orang kaya suka pamer kekayaan, jadi mungkin tidak susah memperoleh data kekayaan mereka. Tapi dengar-dengar kalau urusan pajak, orang-orang kaya suka juga ngumpetin kekayaannya. Yang pasti dalam ini majalah Forbes Asia tidak bertujuan untuk mengaudit pembayaran pajak mereka.
Orang Super Miskin di Indonesia
Ada seorang jurnalis suatu majalah memberi usul kepada Pemimpin Redaksi agar dibuatkan Daftar 10 Orang Super Miskin di Indonesia. “Gila kamu ! tidak perlu ! tidak menghasilkan !” bentak si Pemred. “Tapi bagaimana kalau kita coba Pak, kan seperti ini belum pernah diterbitkan majalah lain, oplah kita pasti booming Pak”. “Okelah, kamu Pimpro-nya” jawab si Pemred ragu-ragu. Berbulan-bulan, jurnalis sangat sibuk dalam proyek ini, sangat melelahkan. Si Pemred bertanya “Sudah sampai mana?”. “Pak, mendaftarkan harta kemiskinan orang miskin tidak terlalu sulit, tapi kita selalu gagal mengurutkannya. Ketika kita ketemu orang miskin di panti asuhan, ternyata masih ada yang lebih miskin lagi di kolong jembatan. Ketika nama mereka mau diumumkan sebagai orang termiskin, orang-orang di desa yang sudah tidak makan selama dua-tiga hari pada protes mengclaim bahwa merekalah yang termiskin di Indonesia. Terlalu banyak orang miskin di Indonesia, itu masalahnya Pak”.
Jurnalis lain punya ide, “bagaimana kalau kita umumkan saja di TV, agar orang yang merasa termiskin di Indonesia mendaftarkan dirinya ke kantor redaksi kita, setelah itu kita lakukan audisi dan kita pilih beberapa orang yang termiskin, setelah itu kita minta masyarakat yang memilih lewat sms, kita buat acara Indonesian Gembel Idol”. “Gila kalian semua… !!”, teriak si Pemred.
Pengentasan Kemiskinan
Pernyataan “terlalu banyak orang miskin di Indonesia” sering membuat pemerintah, lembaga non pemerintah dan perorangan menjadi pesimis dan kurang termotivasi untuk melakukan pengentasan kemiskinan. Usaha-usaha mereka sering diumpamakan seperti orang menggarami lautan, padahal kalau tidak ada usaha pengentasan kemiskinan maka orang-orang miskin akan meningkat terus. Jangan hiraukan pernyataan itu, mari kita lakukanlah dengan cara yang bisa kita lakukan. Mungkin usaha kita tidak langsung ( secara signifikan ) mengurangi jumlah kemiskinan di Indonesia.
Saya setuju dengan pernyataan Robert T. Kiyosaki yang mengatakan bahwa dia tidak senang dengan tokoh Robinhood si perampok orang kaya, caranya tidak benar. Orang kaya menjadi kaya karena mereka kerja keras, akan tetapi tentunya kita juga tidak senang dengan orang kaya yang korupsi dan budaya korupsi harus diperangi. Pernyataan “jangan memberi ikan kepada mereka, tetapi berikanlah mereka pancing” tapi jangan lupa ”beri tahu mereka manfaat pancing dan ajari mereka menggunakan pancing tersebut”.
Suatu kali saya bersama CKS Foundation dan PAKSU mengadakan aksi pengobatan gratis di daerah Halim Jakarta Timur. Ini adalah suatu program pengentasan kemiskinan melalui program kesehatan. Tapi ada suatu hal yang saya perhatikan agak aneh, ada beberapa warga yang mendaftarkan diri untuk menerima pengobatan gratis yang kelihatannya mereka adalah dari kalangan orang mampu. Saya jadi teringat program Jaringan Pengaman Sosial (JPS) yang dibentuk oleh pemerintah setelah krisis moneter tahun 1997, banyak orang mengaku miskin hanya untuk mendapat santunan kemiskinan.
Beberapa kerabat saya menasehati “terlalu banyak orang miskin di Indonesia, usaha apapun yang dilakukan, itu seperti menggarami lautan”. Bagi saya ini suatu renungan sendiri, dengan demikian saya mulai berpikir untuk membantu orang-orang di sekitar saya dengan membekali mereka dengan motivasi dan wawasan sehingga mereka bisa berkembang dan saya sendiri juga mendapatkan keuntungan dari tindakan saya tersebut.
Apakah pancing yang bisa kita bagikan kepada mereka dan dengan demikian kita juga akan mendapat keuntungan dari tindakan memberi tersebut ( tidak selalu materi lho ). Lantas siapa yang dimaksud orang-orang di sekitar kita?, yaitu orang-orang yang berada didalam lingkaran pengaruh kita. Apakah itu anak kita sendiri, orang yang tinggal di rumah kita seperti sanak family dan juga termasuk pembantu, mungkin juga anak buah kita di kantor, dan orang lain. Sekali lagi Pancing yang kita berikan mungkin tidak secara langsung mengentaskan kemiskinan, akan tetapi percayalah suatu saat akan berpengaruh kepada generasi kita selanjutnya, mungkin untuk Indonesia 20 atau 30 tahun kedepan. Coba kita bayangkan berapa juta orang Indonesia yang memiliki pengaruh kepada orang lain dan berapa juta orang Indonesia yang bisa dipengaruhi ke arah yang lebih baik.
Apakah Anda orang yang berpengaruh ? Apakah Anda mau memberi pengaruh yang baik ? Mungkin suatu saat akan mudah mengurutkan orang yang miskin di Indonesia dan itupun tidak perlu lagi dilakukan.
Ronny Siagian Production Manager of PT. Indonesia Steel Tube Works Founder of CKS Foundation http://ronnysiagian.wordpress.com ronny.siagian@istw.co.id
No comments:
Post a Comment